Sunday, September 28, 2014

Review: Bulan Terbelah di Langit Amerika



Setelah buku 99 Cahaya di Langit Eropa menjadi novel islami best seller menyusul filmnya sukses besar di Indonesia tahun lalu, duo suami istri, Hanum dan Rangga kembali meliris kelanjutan cerita travelling mereka di pertengahan tahun 2014 dengan judul Bulan Terbelah di Langit Amerika. Sesuai judulnya, novel ini sangat berbeda dari 99 Cahaya di Langit Eropa yang lebih menitik beratkan tentang pengalaman travelling dan mencari bukti islam di benua biru. Bulan Terbelah di Langit Amerika menyorot percampuran antara fiksi, sejarah, travelling, agama di negara Adidaya. Selain itu, novel ini memiliki persamaan dengan buku sebelumnya yaitu mengingatkan kita untuk menjadi agen muslim yang baik di manapun dan kapanpun kita berada.

Buku dengan ‘taste’ berbeda  dari  sang duo penulis ini membuat saya tidak pernah berhenti membaca dan membalikkan halaman demi halaman untuk menyaksikan sebuah cerita tentang skenario Tuhan yang luar biasa. Seakan-akan Tuhan memberikan misi kepada kedua penulis untuk mengungkapkan sebuah tugas besar kepada dunia

Cerita  bermula di Wina, ketika Hanum menerima sebuah pekerjaan untuk meliput dan mewawancarai para narasumber yang menjadi korban tragedi 9/11 di Amerika. Dengan tema sensasional ‘Would the world be better without Islam?’ yang dipinta langsung oleh Gertrud Robinson, sang pemimpin redaksi Koran Heute ist Wunderbar demi menyelamatkan koran ‘gratis’ tersebut dari kebangkrutan. Hanum merasa keberatan dengan tema tersebut tetapi pada akhirnya ia menerima tantangan itu karena bukan hanya dia ingin membela keyakinannya tapi ia lebih ingin membuktikan bahwa stigma tersebut tidak terbukti. 

Rangga mendapatkan inspirasi untuk tema paper berikutnya berdasarkan sebuah berita di koran tentang seorang jutawan AS Phillipus Brown. Pada saat yang bersamaan professor Reinhard menginginkan Rangga ke Amerika untuk meliput acara konferensi  dengan keynote speaker adalah Phillipus Brown sendiri. Sebuah kebetulan diluar dugaan, Hanum dan Rangga akan memulai perjalanan bersama ke negara Adidaya dengan tugas mereka masing-masing.

 
"Tidak mudah memahami jalan takdir, karena takdir tak akan berjalan dengan arahan navigasi manusia. GPS Tuhan lah penentunya."
 

 Hanum dan Rangga tidak percaya dengan kebetulan yang mereka dapatkan.  Semua sudah digariskan oleh Maha Kuasa sampai akhirnya Tuhan menghendaki mereka berdua berpisah untuk sementara waktu. Selama perpisahan tersebut, mereka harus menyelesaikan misi yang  sudah ditetapkan oleh Tuhan untuk mereka masing-masing. 

          Hanum bertemu dengan narasumber yang ia cari, orang-orang yang membagi kesedihan dan kepedihan mereka sebagai keluarga korban tragedi 9/11. Azima yang tidak pernah bertemu dengan jasad suaminya, Ibrahim Hussein. Ia pun harus rela melepaskan hijab demi sang ibu penderita Alzheimer yang mengingat dirinya lah penyebab kematian ayahnya. Michael Jones yang menentang pembangunan Mesjid Ground Zero demi menghormati sang almahumah istri hingga pengejaran Rangga kepada Phillipus Brown, sang jutawan AS yang memiliki rahasia besar dibalik sifat kedemarwanannya.
 

"Terkadang kita memang tidak adil pada hidup kita sendiri. Tatkala tiada pilihan, kita menggerutu. Padahal Tuhan tak memberi pilihan lain karena telah menunjukkan itulah satu-satunya pilihan terbaik bagi hidup kita."

  
 Mereka harus rela bertahan dalam kesedihan dan kepedihan selama delapan tahun sebagai keluarga korban hingga Tuhan menunjukkan kekuasaaan melalui skenario indah-Nya. Tidak hanya mempertemukan Rangga dan Hanum kembali tetapi menunjukkan bahwa ada sebuah hikmah terindah yang diciptakan Tuhan bagi kepedihan dan kehilangan Azima dan Michael.

Di sepanjang jalan cerita, kita akan disuguhkan sejarah keterkaitan antara Amerika dan Islam yang cukup mencengangkan. Saya tidak pernah tahu bahwa ada Al Quran versi Thomas Jefferson sang Founding Father, orang-orang Melungeon, gambar visual Nabi Muhammad di dinding Supreme Court atau Mahkamah Agung Amerika Serikat dan masih banyak kejutan lainnya.  

Jalan cerita yang susah ditebak, kejutan-kejutan tak terduga sepanjang cerita hingga rasa haru  yang saya rasakan selama membaca novel ini. Sepanjang menyaksikan keajaiban jalan cerita ini, saya bisa merasakan bagaimana hidup dan mati berada tepat di depan mata ketika orang-orang terjebak di dalam gedung WTC yang dalam hitungan menit akan hancur berkeping-keping. Apakah saya tetap berjuang mencari jalan keluar seperti suami Azima atau pasrah dengan takdir Tuhan menjadi korban. Inilah salah satu nilai plus dari novel ini bagaimana Hanum dan Rangga bisa mengaduk emosi dan membawa pembaca hadir di dalam cerita dan merasakan jalan cerita seakan-akan nyata.


Selain nilai plus tersebut, ada lagi hal lain yang  saya sukai dari novel ini. Pada bagian akhir buku, dijelaskan   terlepas dari pemaparan sejarah dan fakta ilmiah di dalam buku, pembaca bisa berpikir kritis untuk mencari tahu tentang sejarah Amerika di dalam buku ini melalui sumber-sumber lain. Bagian penjelasan inilah yang paling saya sukai dimana penulis tidak harus menjelaskan secara detail di bawah halaman tentang sejarah yang mereka ceritakan di dalam cerita. Hal ini secara tidak langsung mengajak pembaca ikut berpikir kritis mencari kebenaran.  Pun pembaca seperti saya yang belum pernah menginjakkan kaki di Amerika, mau tidak mau harus mencari tahu penggambaran visual dan landmark di dua kota yang menjadi setting inti cerita yaitu New York dan Washington DC. 

Bukan hanya dituntut untuk berpikir kritis untuk mencari tahu tentang sejarah Amerika tapi novel ini juga membuat saya bertanya dan berpikir apa hubungan antara isi cerita dan judul. Sebuah judul yang sangat kontroversial dan membuat penasaran hingga saya bertanya-tanya ketika pertama kali membeli novel ini. Apalagi pikiran saya langsung teringat dengan salah satu mukjizat Rasulullah yaitu membelah bulan. Sampai akhirnya saya paham maksud tersembunyi dari judul tersebut setelah selesai membaca novel. Sebuah judul dan jalan cerita yang memang tidak biasa dan sangat jenius. 

Novel ini mengajarkan bahwa sekalipun kita dihadang masalah sepedih dan seberat apapun, yakinlah bahwa skenario Tuhan lebih jenius dibanding para orang jenius sekalipun. Tetap yakin dan percaya bahwa Tuhan telah menyiapkan kado terindah untuk kita. 

Sebuah novel sarat makna yang tidak hanya membuat saya menjadi tahu sejarah keterkaitan Amerika dan Islam, tapi membuat saya berpikir bahwa dunia memang sampai kapan pun tidak akan lebih baik tanpa Islam. Islam sangat membutuhkan agen-agen muslim seperti Ibrahim Hussein, Hanum, Rangga sehingga fenomena  islamophobia dan gemboran media Barat akan citra Islam yang negatif semakin lama semakin hilang di bumi. Secara tidak langsung novel Bulan Terbelah di Langit Amerika mengingatkan kita agar menjadi muslim yang selalu menampilkan Islam yang indah.  Saya berharap novel ini  bisa menjadi novel inspirasi bagi orang-orang yag masih termakan stigma Islam yang negatif. Sekaligus bisa diperkenalkan ke  belahan dunia lain sehingga orang-orang non Muslim tahu bahwa Islam mengajarkan kedamaian bukan sebaliknya. Two thumbs up for Hanum and Rangga, Islam sangat butuh karya jenius kalian selanjutnya.
 

 

0 comments:

Post a Comment