Monday, March 11, 2013

Event #PostcardFiction [ FIKSI MINI BLUE THEME]: Pertemuan Dua Hari



FIKSI MINI BLUE THEME

Pertemuan Dua Hari
Hari Pertama
Aku mengelus pipi oval-nya. Lalu mencium keningnya mesra. Dia belahan hatiku. Aku sangat menyayanginya. Belum ada satu orangpun yang bisa menggantikan posisinya di dalam hati ini. Ia membuka matanya perlahan dan menatapku. Senyumnya mengembang menampilkan lesung di kedua pipinya.
            “Besok kita jadi jalan-jalan untuk terakhir kalinya kan?” ujarmu lalu memegang tangan kiriku.
            Aku menganggukkan kepala. “Iya, tiap hari pun aku siap menemanimu jalan kemana saja.”
            “Tapi, lusa adalah hari spesialmu. Pasti setelah itu kita..”
            Aku meletakkan jari telunjukku di depan bibirnya dan menggeleng. Aku tidak ingin kebersamaan kami terganggu hanya karena ia memikirkan hari pernikahanku.
            Ia pun tersenyum. Ah, sudah lama aku tidak melihat senyum manis yang diapit oleh dua lesung pipi yang selalu membuatku iri sejak aku ditakdirkan selalu bersanding disisimu. Aku bukan hanya iri dengan senyum itu, tapi paras dan hatimupun juga. Dulu aku begitu jahat dan selalu acuh padamu. Masih teringat dengan jelas, aku paling tidak suka disamakan dengan dirimu. Aku benci dengan  dirimu begitu pintar dan selalu disanjung-sanjung oleh orang-orang sekitar.
Sedangkan aku selalu dijadikan sebagai bahan  perbandingan denganmu. Kau mawar dan aku hanyalah rumput-rumput liar disekeliling dirimu. Aku pun berjanji bahwa aku bisa lebih hebat darimu. Dan impian itu terwujud. Akhirnya aku bisa meninggalkan dirimu dan memulai karier di luar negeri. Sedangkan kamu hanyalah seorang guru honor yang gajinya tidak ada apa-apanya dibandingkan diriku. Aku merasa puas sekali melihat orang-orang sangat kecewa dengan pilihan hidupmu itu. Tapi, semenjak seminggu yang lalu, sejak aku menerima berita kamu masuk rumah sakit, rasa benci itu berubah menjadi cinta dan sayang.
Hari Kedua
            Aku mengusap airmataku. Aku memegang  kedua tangannya dingin. Ia tersenyum. Terlihat damai. Aku membaca sebuah pesan terakhir yang ia tulis untukku. Tulisan halus kasar yang dulu selalu membuatku iri akan keindahannya.
            “Kak, aku selalu mencintaimu. Aku tahu kakak benci dengan segala kelebihan yang kupunya. Walaupun begitu kakak adalah satu-satunya belahan jiwa yang kumiliki. Kita kembar dan jiwa kita satu. Bahkan aku masih ingat dengan janji masa kecil kita untuk menikah bersama-sama saat dewasa nanti. Aku rela menolak pinangan seseorang karena aku ingin menunggu kakak pulang. Kak, maafkan aku yang belum bisa menjadi seorang adik yang bisa menyenangkan hatimu. Kuberharap kita bisa bertemu di surga-Nya kelak.”
            Aku meremas kertas itu. Aku menyesal karena belum sempat mengatakan betapa aku sangat mencintainya. Aku mencium kening dan kedua pipinya untuk terakhir kalinya. Ciuman ini adalah bukti cintaku padamu. Maafkan diriku atas semua kesalahan yang telah kulakukan.

 


0 comments:

Post a Comment