Monday, December 12, 2016

Permainan Tradisional atau Permainan Digital?

another old essay from me ^__^ wrote in Dec, 2014


Sore itu, ketika saya sedang melihat langit sore yang cerah sambil memikirkan ide tulisan untuk Blogdetik, tiba-tiba saja sebuah bayangan hitam muncul. Saya yang sedang asyik termenung kala itu terkejut. “Wah, ada layang-layang,” gumam saya ketika sebuah layangan hitam sedang terbang rendah. Yup, saya kagum dan gembira seolah-olah saya sudah lama tidak melihat layang-layang menari di angkasa. Sejak internet dan gadget semakin canggih dan memasuki kehidupan kita, saya jarang melihat sekelompok anak bermain permainan tradisional seperti layangan, petak umpet, lompat tali, dan sebagainya. Sebagian besar anak-anak kecil zaman sekarang lebih suka menghabiskan waktu di depan PC warnet seperti bermain game online atau bermain di rumah dengan memakai gadget si orang tua. Kondisi itu berbanding terbalik ketika saya masih duduk di bangku SD. Saya adalah salah satu generasi 90-an. Mungkin pembaca langsung teringat dengan buku best seller generasi 90-an yang berisikan segala hal yang berhubungan dengan tahun 90-an yang tidak ada di zaman teknologi canggih sekarang ini. 

Melihat sebuah layangan sedang terbang di angkasa, saya pun miris  permainan tradisional mungkin akan punah jika anak-anak sekarang lebih memilih bermain permainan digital daripada bermain di luar rumah. Kadang kala saya merasa gerah jika melihat para orang tua memperbolehkan anak mereka untuk menghabiskan waktu bermain mereka di depan gadget. Dengan alasan agar mereka tidak gagap teknologi. Well, sebenarnya tidak ada yang melarang anak-anak bermain game di gadget tetapi hal itu memang harus dikontrol. Asosiasi dokter anak Amerika Serikat dan Kanada menekankan perlunya anak usia 0-2 tahun sama sekali tidak terpapar gadget. Sementara anak 3-5 tahun dibatasi satu jam per hari dan dua jam untuk anak 6-18 tahun (dikutip dari health.kompas.com).

Anak-anak memang harus dibiarkan untuk memiliki waktu bermain di luar rumah bersama teman-temannya. Jika dibandingkan manfaat antara bermain game di gadget dan permainan tradisional, permainan tradisional memiliki manfaat yang lebih baik. Sebenarnya permainan digital juga baik tetapi anak lebih senang dengan dunia grafis game yang menarik sehingga lebih menyedot perhatiannya ke layar. Sedangkan permainan tradisional lebih banyak mengajarkan hal-hal yang tidak ada dipelajari di sekolah. Apa saja? Diantaranya, yaitu:

-          Belajar untuk berinteraksi
Jika bermain permainan digital, interaksi hanya sebatas dengan permainan yang dimainkan. Pandangan selalu fokus ke  layar. Hal itu secara tidak langsung mengajarkan anak bersifat individualis dan tidak peka lingkungan. Sedangkan permainan tradisional mengajarkan anak untuk berinteraksi berkomunkasi, sekaligus bekerja sama dengan teman. Hal itu penting karena manusia memang tidak bisa hidup sendiri, itulah kodrat manusia.

-          Belajar kompetisi sehat
Di permainan tradisional seperti layang-layang, mau tidak mau kita harus berpikir bagaimana kita bisa memutuskan tali layangan milik lawan kita. Dan tentu saja ada trik-trik khusus untuk bisa mengalahkan lawan. Secara tidak langsung, permainan layang-layang mengajarkan anak untuk bisa menghadapi masalah dan mencari jalan keluar.

-          Adanya punishment ‘kreatif.’
Di lingkungan rumah saya, anak-anak kecil masih suka bermain di luar rumah. Menurut pengamatan saya, orang tua mereka adalah orang tua yang tidak terlalu maniak gadget. Pada sore hari, sekelompok anak laki-laki berkumpul dan bermain futsal di perkarangan rumah tetangga yang tepat di depan rumah saya. Kadangkala saya suka iseng menonton permainan mereka. Bagian paling lucu saat permainan berlangsung adalah ketika seseorang bermain curang atau tidak bisa memasukkan bola ke gawang lawan, maka dia harus dihukum tidak bermain alias keluar lapangan. Adanya peraturan  punishment ‘kreatif’ seperti itu mengajarkan mereka untuk bermain sportif sekaligus bertanggung jawab agar tidak mengecewakan tim mereka.

-          Lebih menyehatkan
Permainan tradisional seperti lompat tali, petak umpet, engrang dan masih banyak permainan tradisional lainnya yang menuntut banyak bergerak dan melatih fisik. Hal itu tentu menyehatkan dibandingkan dengan permainan digital yang minim gerakan fisik.

Sebenarnya masih banyak lagi manfaat permainan tradisional. Tugas orang tua lah yang mengkontrol kegiatan mereka. Sah-sah saja anak diberi keseimbangan waktu bermain antara dunia nyata dan dunia digital. Tetapi seyogyanya, sedari kecil anak dibiarkan lebih banyak beinteraksi di luar karena hal itu lebih banyak mengajarkan mereka hal-hal yang tidak mereka dapatkan di sekolah atau di rumah. Saya bukanlah pakar anak tetapi hanya seorang mahasiswa yang miris melihat pengaruh perkembangan gadget dan orang tua yang cuek dengan anaknya hobi menghabiskan waktu pada gadget mereka. Jika sedari kecil anak dibiarkan dengan gadget tanpa ada pengawasan, dikhawatirkan saat mereka dewasa mereka lebih suka menyendiri  atau individualis, memiliki teman yang sedikit, bersifat pesimistis, memiliki hubungan buruk dengan orang tua, ketergantungan yang berlebihan dengan gadget-nya, perasaan panik yang luar biasa ketika tidak membawa gadget atau hilang.

Orang tua pun bisa berperan untuk mengenalkan anak pada permainan tradisional. Dengan begitu, permainan tradisional kita tidak harus punah di masa depan. Mari sekarang kita peduli dengan nasib permainan tradisional dan masa depan anak-anak. J

0 comments:

Post a Comment